Berita Detik.com

26 Mei 2009

Napak Tilas Sejarah Banten (Road to Banten Museum)

Napak Tilas Sejarah Banten (Road to Banten Museum)


Banten merupakan salah satu propinsi termuda di Indonesia yang memiliki banyak obyek wisata sejarah menarik. Mengingat nama Banten berarti mengingat kejayaan dan keemasan Islam abad XVI-XVII, dimana Banten saat itu merupakan kota metropolis yang banyak disinggahi para pedagang dari berbagai negara didunia seperti Gujarat, Arab, Persia, Belanda, Cina, Jepang, Denmark, Portugis dan lain-lain. Berdasarkan sumber sejarah berupa tulisan-tulisan orang-orang Portugis seperti Tome Pires, dan para pedagang Belanda yang mengunjungi Banten sejak akhir abad ke-16 dan abad ke-17 (semuanya sumber tertulis yang telah dipublikasikan), seorang sejarawan Prof. Anthony Reid secara komparatif berhasil menampilkan ciri-ciri dari emporium-emporium di Asia Tenggara, termasuk Banten. Masyarakat Banten umumnya penganut agama Islam yang taat dan memiliki akar budaya kuat.
Untuk mengenang masa keemasan Banten masa lalu, penulis ditemani seorang hawa melakukan perjalanan napak tilas tepatnya tanggal 21 Mei 2009. Karena katerbatasan waktu, perjalanan ini hanya tertuju pada pusat pemerintahan Kesultanan Banten yaitu kompleks Banten Lama (Surosowan). Banten Lama atau Surosowan adalah situs yang berkelanjutan. Di sana ada peradaban prasejarah dan berlanjut ke zaman klasik (Hindu-Budha), lalu beralih ke kebudayaan Islam pada abad ke-16. Selain Surosowan, Banten Lama juga masih menyisakan keraton Kaibon, Benteng Speelwijk, Klenteng Kwan Im Hud Cow dan Masjid Agung Banten. Nama Keraton Kaibon yang dibangun pada tahun 1815 ini
diambil dari kata keibuan. Pada waktu itu, sultan ke
21 yaitu Sultan Syafiuddin masih sangat belia sehingga pemerintahan dijalankan oleh ibundanya, Ratu Aisyah.
Dari perjalanan yang cukup singkat tersebut kami bersyukur dapat mengenang akan kejayaan masa lalu Kesultanan Banten. Banyak sekali objek-objek disana yang dapat kami jadikan sebagai pelajaran dimasa yang akan datang. Dibawah ini merupakan potret jejak kejayaan masa lalu Banten yang dapat dilihat hingga saat ini.

Gambar 1. Pesona Meriam "Ki Amuk"


Gambar 2. Lukisan yang menggambarkan Banten pada masa VOC


Gambar 3. Koin mata uang yang digunakan masyarakat Banten dalam melakukan transaksi perdagangan (terdiri dari koin VOC, China, Jepang, Kesultanan dll)

Gambar 4. Lukisan yang mengambarkan kebiasaan masyarakat Banten ketika sedang bermain sepak bola


Gambar 5. Senjata Tradisional yang digunakan masyarakat Banten dalam menentang VOC


Gambar 6. Meriam milik VOC

Gambar 7. Kalo ga salah Prasasti dari India hehe...(menunjukkan bahwa Banten telah berhubungan dengan bangsa lain)


Gambar 8. Pakaian khas adat Kesultanan Banten


Gambar 9. Alat musik tradisional Banten

Gambar 10. Rumah adat masyarakat Baduy beserta penduduk asli kanekes yang telah terkena efek Globalisasi hehehe...!!!


Gambar 11. Lukisan ilustrasi mengenai kegiatan dan hasil kerajinan masyarakat Kesultanan Banten

Gambar 12. Pecahan-pecahan keramik yang ditemukan disekitar kompleks Kesultanan Banten
(disinyalir keramik ini berasal dari Cina dan Jepang)


Gambar 13. Gambar ilustrasi mengenai latihan perang yang dilakukan pada masa Kesultanan Banten

Gambar 14. Utusan Diplomat Kesultanan Banten









SKRIPSI


-->ABSTRAK
* Rohmatul Fajri
Skripsi ini berjudul Perkembangan Kesenian Patingtung Di Kabupaten Serang Banten (Suatu Tinjauan Terhadap Pelestarian Nilai-Nilai Budaya Lokal). Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini adalah mengenai keberadaan kesenian tradisional Patingtung di Kabupaten Serang yang ditinjau dari sisi historis mulai dari kemunculan atau lahirnya kesenian ini, perkembangannya, faktor yang menghambat serta upaya pelestarian dari pihak-pihak terkait terhadap nilai-nilai budaya lokal yang ada dalam kesenian tersebut. Kajian penelitian ini lebih difokuskan pada tahun 1970-2000 dimana pada periode tersebut terjadi dinamika dalam perkembangan kesenian Patingtung mulai dari intensitas pertunjukan, kuantitas grup kesenian, serta bentuk penyajian. Manfaat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah untuk mengangkat Kesenian Patingtung sebagai kesenian tradisional atau kesenian daerah khas Serang Banten yang kurang dikenal agar menjadi kesenian yang dikenal secara luas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode historis yaitu meliputi pengumpulan sumber baik lisan maupun tulisan, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Untuk lebih memahami permasalahan yang dikaji maka penulis menggunakan beberapa konsep yang relevan melalui pendekatan ilmu sosial seperti sosiologi dan antropologi untuk memperdalam analisis fakta. Dalam melakukan penelitian penulis sangat tergantung pada penggunaan sejarah lisan (oral history) melalui teknik wawancara. Hal ini dilakukan karena terbatasnya sumber tertulis untuk mengkaji permasalahan di atas.
Kesenian Patingtung yang berasal dari Kabupaten Serang Banten ini merupakan kesenian tradisional dengan nilai budaya lokal yang diwariskan secara turun temurun. Kesenian Patingtung dalam perkembangannya mengalami pergeseran fungsi sesuai dengan perkembangan zaman. Pada awal kemunculannya, kesenian Patingtung berfungsi sebagai media penyebaran Islam. Setelah masuknya pencak silat dalam kesenian ini, kemudian pada masa Kesultanan Banten difungsikan sebagai media untuk melatih dan menanamkan kecintaan terhadap tanah air kepada para pemuda dengan melestarikan nilai budaya yang ada yaitu pencak silat dalam menghadapi kolonialisme atau penjajahan melawan Belanda. Dalam perkembangannya pada sekitar tahun 1970-2000, kesenian Patingtung ini telah mengalami pasang surut. Berbagai faktor masalah yang menghambat baik internal maupun eksternal terus dihadapi kesenian ini. Akibat pesatnya arus globalisasi yang masuk ke tengah masyarakat, menyebabkan Kesenian ini mengalami kondisi yang memprihatinkan.
Seiring berjalannya waktu, dengan perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat, saat ini seni Patingtung kemudian berkembang sebagai seni pertunjukan yang berfungsi sebagai hiburan dengan menuangkan cerita-cerita tentang kegagahan para pendekar atau pasukan Kesultanan Banten. Walaupun demikian, di tengah-tengah arus globalisasi dan semakin maraknya seni budaya modern kesenian Patingtung masih dapat eksis dan bertahan sebagai salah satu warisan budaya leluhur yang mengandung nilai-nilai budaya lokal yang harus terus dipertahankan dan dilestarikan oleh masyarakat setempat sebagai bagian dari sebuah seni pertunjukan.



* Penulis adalah Alumnus dari Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia. Tulisan ini merupakan abstrak dari penelitian skripsinya di Jurusan Pendidikan Sejarah UPI dengan mengambil judul "Perkembangan Kesenian Patingtung Di Wilayah Kabupaten Serang Tahun 1970-2000. Saat ini penulis telah mengajar di SMA Islam Al-Azhar 6.

KESAKSIAN MENGENAI G 30 S

KESAKSIAN MENGENAI G 30 S Oleh Dr. Soebandrio


kesaksianku tentang g30s oleh dr kesaksianku tentang g30s oleh dr yahya_oup


Popular Posts

Most Reading