Berita Detik.com

05 Agustus 2008

Kebudayaan Cina Tertua Di Banten

Gawe Kuta baluarti bata kalawan kawis
Kita bangun kota ini kita bangun benteng ini
Dengan kuatnya batu dan kekarnya karang
Baldatun toyyibatun warobun ghofur
(Dr. Halwany Michrob - Ahli Sejarawan Banten)




          Sejarah bisa diungkapkan lewat peninggalan-peninggalan masyarakat terdahulu dari segala segi aktivitas dan kreativitas, seperti dilihat dari bentuk – bentuk bangunan, prabotan rumah tangga, persejataan dan karya seni yang menjadi tolak ukur dari nilai-nilai budaya masysarakat pada masa itu. Seperti halnya di Banten banyak terdapat benda-benda bersejarah yang memiliki nilai historis yang dapat menyiratkan suatu riwayat tertentu, baik kejayaan maupun kesuraman suatu masa dalam sejarah.

          Di Banten ada sebuah peninggalan kuno bangsa Cina yaitu klenteng yang saat ini merupakan Vihara Budha. Selain orang keturunan Cina yang sering berkunjung kesini banyak pula para turis macanegara dan lokal mengunjungi klenteng ini, karena mereka ingin melihat klenteng Cina yang dibangun pada masa sultan Banten dan konon klenteng tertua di Indonesia. Dari beberapa petugas serta pengawas klenteng itu, diperoleh keterangan serupa bahwa Kleteng kami tertua di Jawa, juga di Indonesia ! ujar Sha Ceng (55 tahun) pengawas sehari-hari klenteng itu.

          Dahulu kampung Pabean memang banyak dihuni oleh orang-orang Cina daerah pelabuhan itu sangat ramai tetapi jauh dari tempat sembahyangnya orang Cina oleh karena itu kerajaan Banten memberikan bangunan kepada orang-orang Cina di Pabean sebuah bangunan besar bekas kantor bea (douane) pada masa VOC di pelabuhan Banten. Bangunan bekas kantor douane itu kemudian di rubah menjadi klenteng dengan nama Bio Hud Couw. Keterangan ini hampir sama dengan yang dipaparkan oleh She Cang bahwa klenteng yang dijaganya sejak tahun 1963 samapi sekarang, semula rumah biasa milik seorang Kapten VOC yang diserahkan untuk dijadikan tempat sembahyang orang Cina, dan pada saat itu orang Cina di Banten lebih dari 1300 kepala keluarga.



          Kemudian dalam proses selanjutnya bangunan klenteng itu mengalami perluasan beberapa puluh meter di areal kosong bagian kiri kanan banguan juga bagian depan maupun belakang bangunan tersebut, sedangkan di ruang lainnya yang melengkapi beberapa tempat penampungan para jemaah klenteng. pembangunan yang terus dilakukan secara bertahap di sekitar klenteng memang tidak merubah keaslian klenteng itu sendiri apa lagi yang terletak dibagian tengah klenteng karena diguankan sebagai altar.

          Meskipun klenteng ini sudah berusia 500 tahun, kesan tua dan membosankan untuk di pandang memenag tidak terpancar sama sekali di banguanan ini, hal ini lebih banyak disebabkan selain karena perluasan bangunan di sekitar bangunan asli klenteng juga beberapa pengaruh warna cet merah dengan kombinasi warna kuning yang menyala. Cat yang banyak melekat didinding tiang serta kusen lainya memeang sering diperbaharui. Agar warna cat tidak mudar dan tetap indah dipandang para pengunjung.

          Lokasi klenteng Cina ini terletak di sebelah barat bangunan Benteng Speelwijk (Benteng yang dibuat Belanda), berjarak puluhan meter saja karena dipisahkan oleh sebuah parit. Klenteng ini di bangun pada masa awal Kerajaan Banten, waktu itu Banten dikenal sebagai pelabuhan rempah-rempah. Bangunan klenteng ini memiliki ciri khas tersendiri sama seperti bangunan-bangunan bersejarah di Banten pada umumnya, tetapi bangunan klenteng amat terpelihara dengan baik dan masih berfungsi sebagai tempat peribadatan para pemeluk agama Budha hingga kini bahkan dalam perkembangannya di sekitar klenteng ini sekarang cukup banyak berdiri penginapan yang khusus di bangun untuk menampung para pengunjung klenteng dari luar kota yang ingin bermalam.

          Kita tengok sejarah hubungan antara kesultanaan Banten dengan bangsa Cina pada masa itu, dilihat dari catatan arkeologi pada setiap tahun banyak perahu Cina yang berlabuh di Banten, mereka datang untuk berdagang dan melakukan perdagangan dengan cara barter/menukar dengan lada sebagai bahan utamanya, pada tahun 1614 di Banten ada 4 buah perahu Cina yang rata-rata berukuran 300 ton. Sedangkan menurut catatan J. P. Coen perahu Cina membawa barang dagangan bernilai 300.000 real dengan menggunakan 6 buah perahu. Selain sebagai pedagang orang-orang Cina datang ke Banten sebagai imigran (Clive Day, 1958:69). Intensitas kehadiran para pedagang Cina cukup meramaikan dalam perdagangan di Banten diiringi pula dengan kehadiran imigran yang berfekwensi cukup tinggi.

          Mata uang Cina yang ditemukan de Houtman di Banten (Rouffer, 1915:122) sebagai tanda peran serta bangsa Cina pada perdagangan di Baten tidak bisa diangap ringan. Penemuan mata uang Cina ini oleh tim arkeolodi di Keraton Surosowan terdapat tulisan Yung Cheng T’ung Pou = Coinage of Stable Peace yang berarti pembuatan mata uang untuk kesetabialn dan perdamaian, sedangkan pada koin sebaliknya diketahui huruf Manchu yang artinya tidak diketahui. Mata uang Cina tersebut berbentuk bulat berlubang segi empat, diameter 2.25-2.80 cm, tebal 0.10-0.18 cm, dan diameter lubang 0.45-0.60 cm. (Halwany, 1993:36)

Referensi :

Halwany Michrob & Mujahid Hudori, 1993, Catatan Masa Lalu Banten

Halwany Michrob, 1997, Dissertation “Historical Reconstruction and Modern Development of The Islamic City of Banten, Indonesia.

Halwany Michrob, 1993, Ekspor – Impor Di Zaman Kesultanan Banten.

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/2/18/potret.html

28 Mei 2008

Teori-teori G 30 S

Menurut penulis In the Spirit of the Red Banteng: Indonesian Communism between Moscow and Peking ini, Bung Karno memang terlibat dalam peristiwa yang dikenal dengan nama G-30-S/PKI atau kudeta 1965 itu.



"The history of states and nations has provided some income for historiographers and book dealers, but I know no other purpose it may have served" (Borne)



Kutipan di atas rasanya tepat untuk menggambarkan "keuntungan" yang didapatkan oleh Prof Dr Antonie C.A. Dake, sejarawan Belanda, setelah karyanya yang berjudul Sukarno File, Berkas-berkas Sukarno 1965-1967, Kronologi Suatu Keruntuhan diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Buku itu dirilis di Jakarta pada 17 November. Namun, "keuntungan" yang diraih Dake juga menuai gugatan keluarga Bung Karno.
Atas kekecewaan bahkan gugatan Sukmawati, Dake, yang meraih gelar sarjana hukum di Universitas Amsterdam, lalu master di Fletcher School of Law and Diplomacy di Massachusetts, dan doktor di Universitas Freie Berlin itu hanya bisa memohon maaf. Menurut penulis In the Spirit of the Red Banteng: Indonesian Communism between Moscow and Peking ini, Bung Karno memang terlibat dalam peristiwa yang dikenal dengan nama G-30-S/PKI atau kudeta 1965 itu.
Keterlibatan itu bisa dibaca dari indikasi bahwa Bung Karno tidak hanya sekadar mengetahui akan terjadinya aksi pembersihan terhadap sejumlah jenderal Angkatan Darat. Konon, Bung Karno pernah minta tolong kepada Untung untuk menertibkan para jenderal yang dianggapnya tidak loyal, tidak setia, dan antikomunis. Dalam buku yang diterbitkan Aksara Karunia itu, Dake menulis bahwa Soekarnolah orang yang mengadu domba Angkatan Darat dengan PKI serta antarpemimpin Angkatan Darat sendiri.
Memang, kalau kita membicarakan peristiwa 1965, selama ini sudah berkembang banyak teori. Versi Dake merupakan salah satunya, kalau tidak mau disebut lagu lama yang diaransir baru. John Hughes juga pernah mendukung versi Dake. Berikut ini beberapa teori lain yang berkembang, diantaranya :
  1. Teori Arnold Brackman, yang mengutip Buku Putih Orde Baru menyebutkan bahwa dalang peristiwa itu PKI dan Biro Khususnya, dengan merekayasa ABRI. Motifnya merebut kekuasaan dan menciptakan masyarakat komunis di Indonesia. Ini adalah versi yang sekarang diajarkan di sekolah-sekolah dan menjadi sejarah resmi. Didukung oleh pemerintah Orba, TNI dan beberapa sejarawan macam : Guy Pauker, Marshall Green dan Arnold Brackman. Teori ini menunjuk pada alasan2 yang kasat mata, seperti : PKI menculik dan mengeksekusi para jendral. PKI telah menghimpun massa di daerah Lubang Buaya. PKI membentuk sebuah biro rahasia non-organik, yang disebut dengan kode : kelompok Pringgondani dengan dikomandoi oleh tokoh misterius berkode Syam dan PKI beberapa waktu sebelumnya sudah menuduh Dewan Jendral hendak melakukan kudeta thd Sukarno. Namun demikian teori ini masih punya kejanggalan berupa : tidak logis PKI memberontak ketika sedang menikmati kekuasaan termasuk kedekatannya dengan Presiden Sukarno. Dan lagi sosok misterius Syam sampai sekarang belum terungkap jatidirinya.
  2. Teori Cornell Paper, yang menyebut pelaku utama adalah sebuah klik Angkatan Darat. Peristiwa itu persoalan konflik internal di tubuh Angkatan Darat dengan memancing agar PKI terlibat. Wertheim, Cornel Paper, Coen Hotzappel, dan M.R. Siregar mendukung teori ini. Pendukung utama teori ini adalah para peneliti dari Universitas Cornell. Alasannya pelaksana Gestapu adalah pasukan TNI-Cakra Bhirawa yang dikomandani Letkol Oentoeng dan didukung oleh TNI-AU dan pasukan KKO ( sekarang Marinir ) yang dikomandani Omar Dhani ( CMIIW ). Pada waktu itu TNI telah terpecah belah karena memiliki afiliasi politik masing2. Contoh : TNI-AU yang mendukung PKI, TNI-AL yang loyalis Sukarno dan TNI-AD yang cenderung anti-komunis.
  3. Teori yang dipopulerkan Peter Dale Scott dan Geoffrey Robinson bahwa otaknya adalah CIA yang ingin menjatuhkan Soekarno yang dianggap pro-PKI.
  4. Teori yang dicuatkan Greg Poulgrin. Menurut dia, skenario besar CIA (seperti teori Peter Cale Scott) bertemu dengan Inggris yang mempunyai motif melindungi kepentingan aset-asetnya dengan cara menghentikan politik Soekarno yang vokal terhadap para neoimperialis seperti AS dan Inggris.
  5. Teori seperti yang dikemukakan Bung Karno sendiri dalam Nawaksara bahwa dalam G-30-S tidak ada pelaku tunggal. Ada konspirasi antara unsur-unsur nekolim (neokolonialisme dan imperialisme) yang ingin menggagalkan jalannya revolusi Indonesia. Gerakan itu juga didukung oleh segelintir pemimpin PKI dan oknum-oknum Angkatan Darat. Oei Tjoe Tat, Manai Sophiaan, dan para Soekarnois lain meyakini teori semacam ini.
  6. Teori yang dikemukakan oleh WF. Wertheim, Coen Holtzappel serta media dan jurnalis Amerika. Bahwa menjadi latarbelakangnya adalah bingkai besar dunia yang sedang dalam Perang Dingin. Amerika menginginkan Indonesia bebas dari pengaruh Komunis karena sebagai buffer kawasan Oceania ( Aussie ). Ditunjang oleh kekuatan kaum hijau ( ijo ) yaitu kalangan santri dan tentara yang nasionalis, maka Amerika mendukung Suharto sebagai perwira muda yang masih segar terhadap dikotomi politik waktu itu. Sementara Jendral2 tua sudah memiliki afiliasi2 politik sendiri2.
    Tapi yang jelas sebelumnya Dewan Jendral TNI-AD memang pernah melakukan usaha kudeta terhadap presiden Sukarno. Dan kemudian ditemukannya dokumen rahasia dari diplomat Inggris yang berisi bahwa Dewan Jendral akan mengkudeta Sukarno ( eh eh eh yang ini nanti aja wa bahas, soal na harus ubek2 lagi buku2 wa.....wa lupa pernah baca di buku apa ya ? ). Kelemahan teori ini : tidak ada bukti valid.
    Namun ada alasan lain yang sangat mencolok yaitu mengapa Suharto sebagai pangkostrad tidak masuk dalam daftar eksekusi PKI ? Padahal posisinya merupakan ketiga tertinggi dalam tongkat komando bila terjadi kondisi gawat darurat. Dan lagi sebagai mantan Panglima Divisi Diponegoro ( Jawa Tengah ), Suharto kenal baik dengan Oentoeng, Latief dan Suparjo yang merupakan pimpinan tentara pro-PKI ( Madiun ). Wertheim berpendapat Syam adalah intelejen suruhan suharto yang meng-infiltrasi PKI.
  7. Teori Operasi intelejen Partai Komunis Cina.
    Ini pernah dikemukakan oleh pihak Amerika dan CIA namun kemudian dicabut kembali. Alasannya adalah tanggal 1 Oktober adalah hari nasional Cina ( ? → ada yang tahu mengenai ini ? ) dan PKI hanya mengirimkan delegasi kelas rendahan ke Cina, sementara para pemimpinnya tetap berada di Indonesia, mengindikasikan bahwa PKI sedang melakukan “ sesuatu “. Amerika menuduh Partai Komunis Cina telah memiliki daftar jendral yang dieksekusi bahkan sebelum peristiwa Gestapu terjadi. Kelemahan teori ini adalah : tidak ada bukti valid.
  8. Teori yang muncul setelah lengsernya Soeharto pada 1998 yang diyakini oleh Ben Anderson bahwa dalam peristiwa 1965, Soeharto terlibat. Sebab, siapakah yang paling diuntungkan dengan peristiwa itu? Hanya Soeharto yang selama 32 tahun mampu menggenggam kekuasaan di negeri ini. Dan selama Orde Baru berkuasa, sejarah telah menjadi alat propaganda untuk melanggengkan kekuasaan. Karena itu, tidak boleh ada teori lain, terlebih mengenai peristiwa G-30-S, selain versi pemerintah Orde Baru.
Mana teori yang paling benar? Apa pun jawabannya, yang pertama-tama paling diuntungkan, entah keuntungan finansial entah politis, tentu saja adalah para sejarawan atau para penulis teori itu, seperti bunyi kutipan di awal tulisan ini. Tapi bagaimana dengan tanggung jawab keilmuan para sejarawan? Untuk menjawab yang terakhir ini kiranya juga dibutuhkan sejarawan tersendiri untuk menyelidikinya.
Sejarah peristiwa 1965 versi Orde Baru, misalnya, jelas harus dikritik. Contohnya dalam buku Kesaktian Pancasila di Bumi Pertiwi terbitan BP Alda/Penerbit Almanak RI. Pada halaman 150 terdapat sebuah foto mayat-mayat bergelimpangan dalam keadaan terikat di tepi Bengawan Solo. Dalam keterangan foto tertulis bahwa mereka korban keganasan PKI. Padahal fakta yang benar mayat-mayat itu justru anggota PKI yang dibantai dan mayatnya dibiarkan begitu saja di tepian Bengawan Solo. Dalam hal ini, sejarawan memang harus bisa obyektif dan bukan hanya mengejar keuntungan politis atau finansial. Sejarawan tidak boleh tinggal diam ketika kemanusiaan dikorbankan serta kebenaran dimanipulasi.
Teori Dake mengenai keterlibatan Bung Karno juga perlu dikritik. Apa motif sesungguhnya? Menurut Soekarnois yang masih cukup banyak di Belanda, apalagi di Indonesia, keberadaan Bung Karno memang membuat jengkel negara-negara pengusung neoliberalisme seperti AS atau Belanda serta negara Barat lainnya. Semasa Bung Karno, para neolib atau nekolim tidak bisa menjajah Indonesia seperti sekarang ini. Masih menurut para Soekarnois, buku Soekarno File tampaknya akan dijadikan salah satu persiapan strategi jangka panjang guna memuluskan jalan bagi usaha negara-negara neoliberalisme untuk memecah belah Negara Kesatuan RI.
Meski begitu, menurut salah satu eksponen Angkatan '66, Sugeng Saryadi, membaca Sukarno File ibarat menonton serial televisi X Files: misteri di akhir cerita selalu membuka kemungkinan adanya misteri lain yang masih menyertai. Apa pun kesimpulan kita mengenai peristiwa G-30-S, tampaknya sosok Bung Karno masih tetap memiliki daya tarik. Di tengah membengkaknya utang dan isu terorisme, kita bangsa Indonesia sebenarnya masih butuh sosok pemimpin yang berani menolak untuk didikte Bank Dunia, IMF, dan tangan neolib lainnya. Bagaimana?


** Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia. Saat ini penulis sedang berusaha menyelesaikan penelitian skripsinya di Jurusan Pendidikan Sejarah UPI dengan mengambil judul "Perkembangan Kesenian Patingtung Di Wilayah Kabupaten Serang Tahun 1970-2000"

22 Mei 2008

Memoar Sang Arjuna



LAMER, mei/22/08
Lamer, sebuah kos-kosan yang penuh sejarah, kisah, dan kenangan yang ta’kan usang termakan waktu. Yang dihuni oleh para penyamun “kata seorang teman”.
Jam di hp usang yang sudah tidak sedap dipandang mata menunjukan pukul 05.00 WIB, selamat datang pagi yang indah. Udara menusuk tulang-tulang rusuk pemberian Tuhan yang paling berharga, karna darisana akan tercipta makhluk Tuhan yang akan menghiasi hari-hariku sampai aku dibawa berarak menuju liang lahat, menuju suatu keabadian yang indah.
Sudah empat hari ini aku dilanda kebingungan, kebimbangan yang ku tak tahu kapan akan berakhir. Hari-hari ku lalui bagaikan kiamat kecil yang menyesakan dada, Otakku hanya teringat akan gelatik kecil yang selalu menari-nari dengan indah dalam alam pikiranku. Pipinya yang indah dengan warna putih yang elegan ditambah paruh kecil mungil merah muda bagitu serasi sangat indah dipandangan mataku ini entah jika dipandang dari puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan mata yang lain. Jujur saat ini kau lah yang paling indah dalam mata hatiku. Mungkin hal seperti ini pernah juga dirasakan jutaaan anak- cucu Adam yang lain.
Hari pertama terasa begitu indah saat pesan singkat lewat hp usang dibalas dengan kata-kata yang diukir dari jari-jari gelatik yang lentik. Bahagianya hatiku saat itu bak padang gesang yang ditumbuhi ribuan bunga berwarna-warni. Saat ku balas pesan singkatnya terbersit dalam pikirku apakah ia tahu siapa diriku ini, hanya seorang mahasiswa tolol, dekil, kotor, jelek, dan tak tahu malu, yang mungkin saja ia dipandang baik hanya dimata teman-teman setianya.
Hari-hari berikutnya terasa neraka bagiku, sang gelatik pujaan tak pernah membalas pesan singkatku. Padahal walaupun hanya satu kata balasannya sangat berharga sekali bagiku dan dapat menyirami kemarau panjang dalam hati. Kini seakan ia memberi jarak yang membentang denganku sama seperti burung-burung yang lain. Apakah ada yang salah dengan diriku? Apakah aku tidak diharapkan lagi? Atau jangan-jangan kini gelatik mungil sudah tahu siapa diriku? Yang hanya seekor pipit kotor yang kerjanya hanya mencuri butir-butir padi menguning disawah petani miskin, malang benar nasibku kawan! Mungkin juga sang gelatik mengharapkan rajawali gagah besar dan pemberani. Disini semuanya bercampur, membaur diantara kebimbangan, kebingungan, dan harapan seakan membawaku kedalam sebuah prahara besar bak bom atom sekutu yang dilesakan SEKUTU ke tanah Jepang yang membumi hanguskan hirosima dan Nagasaki atau seperti badai tsunami yang membantai, memporakporandakan tanah kelahiran saudara kita di bumi Nangro Aceh Darussalam. Mungkin juga seperti pasukan Pajajaran yang dibantai habis pasukan Majapahit dibawah panglima Gajah Mada saat hendak berbuat mulia untuk menikahkan bunga kerajaan Putri Diah Pitaloka dengan Raja Agung mereka Hayam wuruk. Entahlah yang pasti hancur……..hancur…………..hancur………. lebur………. kawan! Dan kini ekspektasi-ekspektasi yang kurajut dalam alam pikiranku musnah seiring bergulirnya waktu. Beruntung aku masih mempunayi sahabat karib yang selalu setia mendampingiku saat susah, duka dan senang terimakasih kawan…..hanya kata itu yang dapat kuucapkan tulus dari hati terdalam. “TERnyata untuk memiliki seseorang tak semudah memasukan sikulit bundar ke jala gawang” he……he………….
Tak apalah dari kisah ini kutemukan mutiara indah dalam hidup ini. Kini ku menyadari siapa diriku ini, manusia hanya berusaha semuanya berada ditangan Tuhan sang penguasa alam pana ini. Biarkanlah hanya sang waktu yang akan menjawabnya kawan…….! Walaupun memang benar keputusasaan hanya akan menjerumuskan kita kedalam keterpurukan yang tiada henti.

“Kuharap gelatik indah tahu perasaan ku saat ini maafkan bila beberapa hari ini mengganggumu dengan hal yang tidak penting bagimu tetapi sangat berharga bagiku”

Siapakah dirimu?
Yang selalu mengganggu tidur nyenyakku
Mengganggu selera makanku
Mengganggu setiap hari-hariku
Kuharap kau jadi………
Embun pagiku
Matahariku dan……..
Dewi malamku
Yang kan slalu menghiasi hari-hariku kelak



lamer 22 mei 08
Hari ini suasana hati masih sama seperti hari-hari sebelumnya, Tuhan masih berkehendak lain belum sesuai dengan apa yang kuharapkan. Rasa putus asa semakin menjadi bahkan ingin kukubur saja dalam-dalam niat untuk mendapatkan gelatik pujaan dan kembali kepada kehidupanku yang dulu sebelum rasa ini datang.
Saat kurebahkan badan ini diatas kasur busa yang kusam, yang sudah setia menyertai ku selama empat tahun lamanya tiba-tiba hp ku bergetar seorang kawan memberi kabar bahwa gelatik pujaanku tak masuk kuliah karena sakit, tanpa pikir panjang walaupun penuh keragu-raguan ku beranikan diri untuk mengirimkan pesan singkat hanya sekedar untuk menanyakan keadaannya walaupun kutahu tak mungkin rasanya pesan singkat yang kukirim kali ini akan ia jawab . Jujur ku akui rasanya hati ini tersentuh mendengar berita tentang keadaannya, tapi siapakah dia? Dia hanya seorang dara yang selalu mengganggu fikiranku setiap saat, tidak lebih dari itu.
Menginjak sore menuju malam setelah adan magrib berlalu menuju isya setelah orang berlalu lalang bergantian mengambil wudhu dan bergiliran bersujud menghadap sang khalik, kulihat hp dekil satu-satunya yang kupunya ternyata ada satu pesan singkat. Saat kubuka pesan singkat terlihat pukul 18.43 ternyata sang gelatik membalas sms-ku, walaupun hanya dibalas dengan singkat “ ga papa ko, nyantai z” namum sanggat berarti sekali bagi diriku dan mampu membagkitkan semangat untuk mendapatkan cinta sang gelatik. Teringat akan seorang Matoolrazzi, kawanku yang menirukan pidato sang proklamator dengan mimik dan gayanya yang khas kata-katanya kurang lebih “jatuh……bangkit……jatuh……bangkit!” yang terus ia katakana secara berulang ulang. Sungguh ajaib dan bukan main girangnya hati ini tak tertahankan menumpahkan rasa senang yang terpendam selama beberapa hari sampai tubuh ini kubawa berjingkrak-jingkrak dihadapan teman-temanku yang ikut senang mendengar kabar itu. Mereka hanya tersenyum kecil mengejek tingkah aneh yang ku lakukan dua pesan singkat yang luar biasa sesingkat isinya.

Lamer, 23 mei 2008
Lumayan, itulah sekiranya kata yang tepat karena malam tadi tidurku nyenyak sampai adzan subuh tak kudengar menyapaku, jam sudah menunjukan pukul 08.30 saat ku terjaga. “Maafkan aku Tuhan berkali-kali ku langgar perintahmu”.
Pagi ini kusambut dengan semangat baru, saat kubuka pintu utama Lamer ternyata mentari mulai merangkak keatas dan siap memakan kulit siapa saja tanpa ampun dan pandang bulu. Hati siapa tak senang saat harapannya mulai terlihat dihadapan mata walau hanya sekedar titik hitam tak beraturan dan samar-samar yang akan menjadi seraut wajah dara manis yang tersipu berseri-seri.
Segelas kopi panas mnemaniku saat kutunggu Niko yang pergi kuliah sejak pagi tadi dengan harapan akan membawa kabar tentang si gelatik, sesuai janjinya yang dikatakan malam tadi. Waktu terus berlalu sambil kusibukan diriku dengan mencuci gelas-gelas kotor yang dipenuhi puntung rokok bekas kawanku tadi malam. Saat mendebarkan tiba ketika didepan pintu kulihat galih “litte angel” kepunyaan temanku tertawa kecil sambil menggoda mencolek tanganku, dengan suaranya yang khas berkata “ A dah aku salamin katanya salam balik” tersipu aku dibuatnya tersenyum malu-malu. Tak lama setelah itu muncul di depan pintu intel keduaku Niko, seraya berkata “ aduh wong kayanya si glatik tertutup orangnya sehingga aku sulit bertanya adanya”. Kali ini akupun tetap tersenyum walaupun kabar itu terasa menyesakan dada seakan aku berhenti bernafas seakan dunia menjadi gelap gulita. Tak apa kawan waktu masih panjang dan harapan masih terbentang, kataku.
Saat siang hari yang mulai menjemukan, kuberanikan diri utuk mengirim sms kepada si gelatik yang isinya hanya menanyakan kabar dan sedang apa? Sungguh basi sekali kata-kata itu karena akupun tak tahu harus berkata apa. Sebasi isi sms-ku sama basinya saat kutunggu jawaban sms darinya yang tak kunjung datang. Menunggu adalah satu hal yang paling membosankan dalam hidup. Berkali-kali kulihat hp-ku berkali kali pula kulihat tak ada sms yang diharapkan.

Badai Asmara

Seganas tsunami, catrina, bahkan tornado sekalipun
Sebesar perang Bharatayudha dalam pewayangan
Selembut belaian angin pantai diterik panas
Jiwa-jiwa dibuat melayang-layang tak tentu arah
Menembus batas nirwana
Hati dibawanya ke alam surgawi
Penuh dengan warna-warni tulip Belanda yang indah
Baunya sewangi jasmine yang merekah indah dipelupuk mata
Jiwa-jiwa kan terus melayang seiring jalannya waktu
Terus menari, terpontang-panting dalam ketidak pastian
Menuju titik terang kebahagiaan abadi


Lamer, 24 mei 08
Pagi ini adalah pagi yang kurang menyenangkan bagi sebagian orang khususnya kalangan masyarakat mnengah kebawah. Karena pada malam tadi pemerintah secara resmi mengumumkan kenaikan BBM. Apalah artinya berita apapun,perubahan apapun bagi oaring yang dimabuk cinta semuanya akan sama saja seperti sediakala yang ada dihati dan fikirannya hannya primadona hatinya. Benarkah?
Sabtu pagi ini suasana di lamer sama sepeti hari-hari lainnya tak ada yang berbeda, sama seperti anak kuliahan pada umumnya. Ada yang masih molor, ngerjain tugas kuliahnya, maen game, ngopi dan meroko diselingi lamunan-lamunan nanjauh melayang kemasa depan dan obrolan-obrolan yang tidak jauh beda dari hari kemarin.
Tak tarasa waktu berlalu, kini siang tlah berganti malam. Saat ini saat yang ditunggu para pasangan muda untuk menyalurkan hasrat rindu dan kangennya pada pujaan hatinya, namun sungguh saying mala mini cuaca agak kuarang bersahabat, gerimis turun sejak dari tadi sore. Keadaan yang sangat jauh berbeda dengan ku malam- malam yang akan ku lalaui ibarat seekor monster yang siap menerkam mangsanya dan memakannya bulat-bulat, sungguh menyedihkan
Seperti biasa aku masih menunggu sms balasan dari si gelatik, walaupun ku tahu tak akan ada balasan pesan yang kudapat, menyebalkan kawan! Tak ada kepastian yang ada hanya mengandai-andai dalam lamunan, tragis. Hanya candaan-candaan kecil kawan-kawanku yang menjadi penghibur. Yang kemudian mendatang sebuah ide dari seorang filsuf cinta yang tak jelas “ kenapa tak kau telpon saja, siapa tahu dia tidak punya pulsa sehingga tak membalas sms darimu!” kurang lebih kata-kata itu yang keluar dari mulutnya yang besar, dan rasanya kalau tidak punya pulnya rasanya tak mungkin, itulah yang muncul dalam fikiran. Sebuah ide yang memunculkan pertanyaan “ siapa yangkan menelponnya?”, jujur ku akui aku tak berani menelponnya secara langsung. Tanpa pikirpanjang kusuruh kawan yang mempunyai ide gila ini untuk menelponnya. Apa daya dua kali dihubungi tak ada reaksi si gelatik tak mau mengangkat telpon sampai yang ketiga kalinya iabaru mau berbicara dengan kawanku, walaupun obrolannya hanya kata-kata basi yang mungkin akan membuat muntah seorang wanita. Namun tak apa setidaknya mendengar suaranya yang lembuh dan menggairahkan jiwa telah mengobati rasa perih hatiku yang terbakar api asmara. Thank kawan! Ku harap hari esok kan lebih baik, perjuangan pun masih panjang.


Terima kasih Tuhan atas semua yang kau berikan pada hambamu ini.

Thank to:
Kawan-kawan yang telah membantu terjadinya kisah ini

Galih
: adikku tersayang, sahabatku, yang selalu bersedia mendengarkan ocehanku. Beruntung Tuhan mengenalkan kita lewat sahabatku yang kini menjadi mutiara hatimu. Moga langgeng do’a ku bersamamu.

Matoelrazzi: sosok yang satu ini tak usah diragukan lagi semangat dan rasa percaya dirinya, mungkin jika ada mata kuliah semangat dan rasa percaya diri layak kiranya ia mendapat nilai A+. celotehannya mampu membangkitkan semangat seekor singa yang baru ditinggal mati pasangannya bahkan tak jarang celotehannya meruntuhkan harapan yang sudah dibangun setinggi langit. Tak pernah perhitungan selalu mengerti keadaan kawannya. Maju terus kawan, “ hilang satu tumbuh seribu” do’aku bersamamu

Nick Marley: sosok sufi cinta dengan perawakan tinggi besar, entah ilhamnya datang dari mana? Yang pasti penasehat cinta unggulan “penyambung cinta kawan” pembangun semangat yang mempuni. Semoga cita-citamu menjadi little Budha dapat tercapai dan menemukan pujaan hatinya. Doaku bersamamu

Djay: lumayan “handsome” diakui bersertifikat MUI. Manusia penyabar yang kutemui diantara kawan-kawanku, dukunganmu sangat berati bagiku. Terus maju dan semangat “raihlah cita-citamu demi cinta” do’aku bersamamu.
Sahabat Lamer yang lain, mohon maaf tidak dapat kusebutkan namanya karena sahabat tidak tahu kisah ini. Tapi sahabat tetap kawan terbaikku. Do’aku bersamamu
Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian. Amien



**Tulisan ini adalah sebuah memoar dari makhluk Tuhan yang berperasaan. Penulis adalah rekan saya di Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia Angkatan 2004. Bak Arjuna mencari cinta, kini ia sedang sibuk dalam berbagai kajian-kajian ilmiah tentang "perasaan dan cinta".

20 Mei 2008

Pancasila Komunisme dan HAM


Apa yang sebenarnya dipahami oleh masyarakat awam di Indonesia tentang komunisme sebagai sebuah ideologi? Dalam sebuah kesempatan, penulis terlibat dalam serangkaian diskusi di beberapa SMU tentang kekerasan dalam sejarah Indonesia. Sebuah pertanyaan diajukan oleh penulis “apa yang terlintas di pikiranmu saat mendengar kata komunis?” Serentak beberapa siswa kemudian berceletuk “pembunuh, atheis, pemberontakan, partai kiri, musuh pancasila, orang tidak bermoral dan seterusnya”. Kejadian ini terus berulang dalam keseluruhan rangkaian diskusi yang dilakukan. Beranjak dari apa yang dipahami oleh siswa SMU tersebut, dapat kita lihat sebagai sebuah contoh kecil dari apa yang dipahami oleh masyarakat awam. Dari sini muncul sebuah pertanyaan bersama “apa sebenarnya yang dimaksud dengan komunisme?” Benarkah semua tuduhan tersebut?
Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang relevansi komunisme di Indonesia. Akan tetapi, dalam proses menjawab tujuan tersebut diatas, penulis mencoba mengangkat tentang sejarah komunisme yang kemudian menjadi sebuah momok menakutkan dalam benak bangsa Indonesia. Secara panjang lebar, penulis akan membeberkan kontribusi pemikiran Marxisme dalam Hak Asasi Manusia (HAM) dan Pancasila.


Membangun sebuah ketakutan, komunisme sebagai sebuah momok


Kata komunisme, sosialisme dan Marxisme menjadi hal yang tabu pada masa kekuasaan rejim orde baru. Setiap kalimat atau frase dalam ucapan, tulisan bahkan dalam pikiran setiap orang yang berada dalam wilayah Republik Indonesia (RI). Ketakutan ini tidak terlepas dari sejarah kelam bangsa ini, dimulai dari sebuah penculikan tujuh jendral dan satu perwira Angkatan Darat oleh sejumlah tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) bersama Perwira dari AD. Pemberontakan ini kemudian “digagalkan” oleh Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Kepala Komando Strategis Angkatan Darat. Pemberontakan tersebut kemudian dikenal sebagai “Pengkhianatan G30S/PKI” karena dituduh PKI bertujuan melakukan pemberontakan tersebut untuk mengganti paham Pancasila sebagai dasar negara.
Sejak saat itu pula, komunisme dianggap sebagai “setan” yang harus diberantas. Pembunuhan massal terhadap mereka yang dituduh sebagai anggota PKI maupun simpatisannya pada tahun 1965 hingga 1966 menjadi bukti nyata pemberantasan tersebut. Soeharto -yang kemudian diangkat menjadi Presiden RI pasca peristiwa tersebut- kemudian mengambil langkah dalam kebijakannya melalui Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia Nomor XXV/ MPRS/1966 tentang pembubaran PKI.
Berbagai cara dilakukan oleh penguasa saat itu untuk membentuk satu ketakutan bersama di tengah masyarakat. Setiap orang/kelompok yang menganut pemikiran komunis kemudian dianggap sebagai atheis. PKI dituduh ingin menggantikan Pancasila dengan paham komunis. Alat propaganda melalui berbagai media kemudian digunakan untuk menyebarkan luaskan berita tentang kebrutalan yang dilakukan oleh orang komunis. Tentunya, kita masih ingat film “Pengkhianatan G30S/PKI” yang setiap tahun diputar pada tanggal 30 September.
Sejak saat itu pula pelarangan mempelajari semua ajaran Komunisme/Marxisme kemudian menjadi satu paket dalam pemberangusan PKI. Yang harus disayangkan adalah materi tersebut kemudian juga ikut dihilangkan dalam materi pelajaran di perguruan tinggi dan diskursus ilmiah. Jadilah Komunisme menjadi setan yang tidak tanpa bentuk, dia ada tapi tidak ada.
Kata komunis kemudian menjadi senjata yang ampuh untuk menunjuk setiap perbuatan yang dianggap mengganggu stabilitas kekuasaan orde baru. Pada masa 80-an, mereka yang menjadi korban/keluarga korban dari Tragedi Tanjung Priok kemudian dituduh sebagai gerakan Komunis. Saat gerakan mahasiswa semakin menguat dalam melakukan perlawan terhadap kekuasaan otoriter, mereka kemudian di cap sebagai pendukung dan menyebarkan paham komunisme di tengah masyarakat. Akibatnya, semua yang tidak sesuai dengan keinginan dari penguasa harus diberantas atas nama Pancasila. Melihat kenyataan ini, terlihat kontradiksi apa yang dipahami dan yang terjadi.


Komunisme, Sosialisme dan Marxsisme

Lalu apa sebenarnya komunisme? Mengapa kemudian dia dianggap begitu menakutkan sehingga harus dienyahkan dari bumi ini?
Ada baiknya kita mengetahui latar belakang Karl Marx sebelum kita membahas kontribusinya dalam perkembangan komunisme di dunia. Sebagai salah satu murid dari Hegel, Marx sangat dipengaruhi oleh Hegelianisme. Pada saat Marx duduk di bangku kuliah-dia mempelajari tentang kemanusiaan serta filsafat dan hukum-, Hegelianisme sangat berjaya. Salah satu pandangan Hegel yang mempengaruhi Marx adalah konsep tentang bangsa/negara. Dimata dunia, Karl Marx dipandang sebagai seseorang yang mengklaim telah menjadikan sosialisme ilmiah.
Sosialisme, secara sederhana adalah sebuah sistem organisasi sosial dimana harta benda dan pemasukan/pendapatan menjadi obyek dari kontrol sosial. Ini juga bisa dipahami sebagai sebuah gerakan politik yang bertujuan menempatkan sistem dalam kehidupan praksis. Kontrol sosial diatas memang dipahami secara luas dan berbagai kepentingan. Marxisme-sebagai sebuah ideologi dan teori sosial ekonomi yang dikembangkan oleh Karl Marx and Friedrich Engels-memandang sosialisme sendiri sebagi sebuah transisi perubahan dari kapitalisme menuju ke komunisme.
Komunisme sendiri digunakan oleh Marx untuk menggantikan kata Demokrasi. Komunisme diyakini oleh Marx akan menghilangkan semua bentuk keterasingan dalam produksi. Menanggulangi keterasingan sangat tergantung pada tindakan untuk mengesampingkan pemilikan pribadi.
Dari paparan di atas, terlihat jelas bahwa masyarakat awam –yang jelas tidak pernah mempelajarinya- telah tidak tepat mengartikan tentang komunisme. Apa yang dipahami dengan arti sesungguhnya sangat jauh berbeda. Ketidaktahuan ini telah menimbulkan berbagai prasangka buruk terhadap komunisme sehingga berakibat jatuhnya korban dari sesama bangsa ini. Komunisme sebagai sebuah kajian ilmiah yang kritis di bidang ekonomi, sosial dan politik dipahami sebagai setan yang mengancam. Kajian tentang komunisme akan lebih dikupas dalam topik berikutnya.


Sumbangan pemikiran Marxisme dalam HAM dan Pancasila


Dalam melihat kaitan antara Pancasila, HAM dan komunisme, ada baiknya kita menelaah nilai-nilai Marxisme. Dalam melihat perkembangan HAM, Marx pernah melontarkan Kritik yang cukup tajam. Akan tetapi kita harus peka saat melihat kritik yang disampaikan oleh Marx, kita sebaiknya tidak lupa dengan konteks jaman pada abad ke-17 hingga ke 18. Dalam masa itu, HAM berkembang dimulai dari sebuah tuntutan yang di munculkan oleh Thomas Jefferson, salah seorang pendiri Amerika Serikat. Tuntutan tersebut adalah agar manusia mendapatkan kembali hak-haknya yang tidak dapat dicabut sejak Bill of Rights.
Dalam masa perang dingin-bahkan sampai saat ini-, muncul isu yang menjadi senjata untuk menyerang salah satu pihak dengan mengatakan bahwa Marxsisme telah menjadikan hukum dapat diabaikan dan HAM adalah ilusi dari kaum borjuis saja. Tentu saja, tuduhan tersebut menjadi sangat naif jika kita melihat lebih jauh sumbangan dari pemikiran Marx lebih jauh dalam perkembangan HAM. Geoffrey Robertson QC secara gamblang mengatakan bahwa pada tataran teorities, dunia telah berutang pada Marx pada penghapusan hak-hak alami.
Perlu diketahui bahwa Marx mengkritik tentang HAM yang berkembang pada masa itu. Kritik tersebut ditulis dalam sebuah esai yang berjudul On the Jewish Question (1844). Ia menolak dengan membuat pernyataan;
“Bahwa apa yang disebut dengan HAM … itu tidak apa-apanya. Kecuali hak asasi manusia yang egois, yaitu manusia yang terpisah dari manusia lainnya atau dari komunitasnya.”
Kritik ini telah mengantarkan para pemikir Marxis pada jaman berikutnya telah mencirikan bahwa HAM adalah sarana universilasi kapitalisme terutama kebebasan tanpa tanggung jawab sosial.
Dalam waktu yang sama, kaum sosialis maupun Marxis tetap berupaya untuk menghilangkan hak untuk kepemilikan. Perlu dipahami, pada masa abad ke-19, kepemilikan dipahami sebagai produksi, distribusi dan pertukaran atau kekuatan atas yang lainnya. kerja produksi dan dunia ekonomi dalam masyarakat harus dirasional dan dikontrol oleh publik. Oleh karena itu, hak kekayaan individu dapat diterima namun hak untuk kekayaan demi tujuan individu harus dibatasi bahkan dihilangkan.
Sebenarnya, dibalik itu Marx mendukung deklarasi tentang hak warga negara. Dalam pandangannya, hak komunal ini sebagai sumber daya baru yang dapat mengantar kita ke transformasi sosial. Dalam inti pemikiran Marx dapat kita ditemukan gagasan yang sangat tajam dan sangat relevan pada masa itu-bahkan hingga saat ini- tentang hak sosial dan ekonomi dari warga negara atas kesejahteraan seperti hak atas pendidikan, perumahan, dan pekerjaan.
Dalam beberapa tulisannya, ide tersebut terlihat dengan jelas. Dalam sebuah tulisannya yang terkenal Communist Manifesto (1848), Marx sebenarnya tidak secara langsung menyerang pada paham kapitalisme melainkan pada masyarakat tradisional, kepercayaan salah yang berasal dari abad pertengahan, feodalisme dan kekuasaan yang lalim (tirani). Dalam tulisan tersebut, Marx mengungkapkan bahwa dalam menegakkan demokrasi, kaum protelar harus menjadi kelas yang berkuasa. Dalam kekuasan itu, kaum proletar akan menggunakan kekuatan politiknya untuk mendorong sentralisasi kapital dan segala instrumen produksi di tangan negara. Ini kemudian dipahami sebagai perjuangan kelas. Selain itu, dalam tulisannya tersebut Marx menyampaikan sepuluh pokok pikirannya, beberapa diantaranya sangat kental nuansa HAM. Salah satunya adalah pendidikan gratis bagi semua anak di sekolah publik. Marx juga menekankan bahwa sepuluh pokok pikirannya tentunya bisa berbeda di setiap negara.
Selanjutnya, dalam Inagural Address of The Working Men’s International Association (1864), Marx menyampaikan beberapa yang permasalahan dihadapi oleh kaum pekerja. Meningkatnya produksi dan keuntungan dari proses produksi tidak diikuti oleh perbaikan kondisi para kelas pekerja. Dipaparkan bahwa kondisi kesehatan kelas pekerja terus menurun. Lebih jauh lagi, Marx melihat bahwa kaum feodal dan pemodal menggunakan keistimewaan mereka untuk melakukan monopoli yang jelas-jelas merugikan kaum proletar.
Marx kemudian lebih tajam lagi dalam dua tulisannya yaitu Instructions for Delegates to the Geneva Conggres (1866) dan , Critique of the Gotha Programme (1891). Dalam tulisan pertamanya, Marx menegaskan bahwa harus ada pembatasan hari kerja bagi para pekerja. Perhatiannya pada permasalahan anak mulai terlihat dengan penekanan bahwa negara harus memperhatikan para pekerja anak dan buruh anak, baik perempuan maupun laki-laki.
Selanjutnya, Marx lebih spesifik lagi mengangkat beberapa permasalahan. Pertama, negara harus menyediakan pendidikan dasar secara meluas dan setara. Biaya pendidikan harus diambil dari pajak pendapatan kelas atas. Sebagai penegasan dari tulisan sebelumnya, Marx melihat bahwa kelas pekerja membutuhkan hari kerja yang normal. Artinya, harus ada jangka waktu kerja yang jelas. Khususnya bagi para pekerja perempuan, harus dilakukan pembatasan yang jelas. Pembatasan dalam hal ini bukan merupakan bentuk diskriminasi melainkan pembatasan bagi perempuan tidak boleh bekerja pada ruang kerja yang membahayakan perempuan secara mental dan fisik. Perkembangan pemikiran Marx tentang hak anak sendiri mulai tampak. Ini tampak dari pengasan bahwa harus ada pelarangan pekerja anak.
Marx sekali mengaskan tentang pentingnya pengawasan yang ketat dari negara untuk pabrik, tempat kerja dan usaha domestik. Selanjutnya, negara juga harus menjamin penegakan hukum. Ini muncul dari sebuah kenyataan bahwa sering terjadi penyimpangan yang dilakukan oleh kebijakan pabrik. Yang tidak pernah terpikir bahkan terbayang oleh penulis bahwa Marx dengan meminta-walaupun itu tidak terlalu ditekankan-agar negara membuat peraturan yang jelas bagi para narapidana yang dipekerjakan. Mereka harus diperlakukan sama sesuai dengan hak pekerja yang umum dan tidak boleh diperlakukan secara sewenang-wenang.
Terlepas dari itu semua, HAM adalah sebuah kemajuan sejarah yang sangat penting dalam sebuah upaya umat manusia. Mari kita lihat beberapa teori yang sangat terkait dengan HAM dan bahkan dapat dikatakan telah terbukti dalam perjalanannya yang disumbangkan oleh pemikiran sosialisme.
  1. Tujuan dari Marxsisme adalah humanisme sosialis, dimana manusia dapat bebas berkembang,     tidak teralineasi serta menjadi individu yang penuh kesadaran dan saling berhubungan dengan     individu lain dalam kerangka sosial yang membuka kesempatan penuh untuk mengembangkan kapasitas dan potensi masing-masing individu
  2. Ketika hukum yang berlaku di masa lalu serta elaborasi doktrin HAM telah memperlihatkan tanda bahwa isi dan fungsinya hanya diberikan kepada kelas sosial tertentu, sosialisme mencoba belajar dari kondisi tersebut. Walaupun masih sangat terbatas dan tidak jelas dalam penjelasan dan pelaksanaanya, sosialisme tetap mengakui terhadap hak mendasar manusia sebagai komunitas manusia yang harus dihormati dan umat manusia yang sepenuhnya merdeka
  3. Hak dan kebijakan tidak dapat disederhanakan secara abstrak. Lebih detil lagi dalam pandangan sosialisme, lingkungan politik tidak dapat dipisahkan pada masalah sosial ekonomi. Hak seharusnya tidak hanya dilihat sebagai sebuah asal kebebasan namun sebagai sebuah kebebasan.
Selain itu, terdapat beberapa hal penting lainnya yang muncul dalam proses pembacaan penulis terhadap beberapa bahan, yaitu;
  1. Kontribusi pemikiran sosialisme-dimana diwakili oleh Karl Marx-dalam perkembangan konsep HAM telah meletakkan landasan tentang hak ekonomi, sosial dan budaya.
  2. Negara, sebagai fungsi kontrol sosial harus menjamin pemenuhan terhadap hak tersebut bagi warga negaranya.
  3. Sangat jelas sekali hak warga negara atas kesejahteraan bersama harus dipenuhi oleh Negara. Pertama adalah hak warga negara atas pekerjaan dan dalam bekerja. Hak warga negara atas pendidikan yang layak dan dijamin penuh oleh negara. Terakhir, hak warga negara atas kesehatan, baik itu akses maupun pelayanannya.
Jadi sangat jelas, beberapa hal yang tersebut yang diatas merupakan nilai universal dalam melihat dunia ini lebih humanis secara universal. Jika kita coba kaitkan dengan nilai yang terkandung dalam beberapa butir sila di pancasila, akan terlihat jelas penghayatan dari; Kemanusiaan yang adil dan Beradab dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Apakah Komunisme Masih Realistis di Indonesia?

Banyak pihak dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi hingga aktivis mahasiswa yang memunculkan pertanyaan tersebut diatas. Untuk menjawabnya, penulis akan mencoba meminjam pernyataan Sobron Aidit dalam sebuah diskusi bahwa “Tak Realistis Menegakkan Komunisme di Indonesia “. Menurutnya, yang paling penting sekarang adalah bagaimana memajukan demokrasi.
Hal yang sama dipahami oleh penulis dalam melihat komunisme sebagai sebuah ideologi. Perkembangan jaman telah memberikan gambaran yang jelas bahwa komunisme sebagai sebuah ideologi yang coba diwujudkan dalam sebuah bentuk negara tidak pernah terwujud. Negara yang menganut atau menggunakan komunisme sebagai landasan, justru menjauhi prinsip dari komunisme.
Saat ini, para aktifis menggunakan komunisme sebagai salah satu bahan kajian ilmiah dalam melihat perkembangan sosial bangsa ini. Bergeraknya kapitalisme seperti bola salju yang mengancam yang didukung oleh kekuasaan, dapat ditelaah dan dibongkar dengan komunisme sebagai pisau bedah dalam permasalahan sosial. Kebutaan seseorang terhadap realitas pemiskinan oleh sebuah sistem dunia yang kapitalistik dapat terhindarkan jika komunisme digunakan sebagai alat bantu dalam membongkarnya. Perkembangan wacana yang secara kritis dan argumentatif terus harus dilakukan, bukan membuat ideologi menjadi tabu atau mitos.
Sejak akhir 90-an telah banyak buku maupun tulisan pendek yang membahas tentang komunisme. Sedikit tidaknya, hal tersebut telah memberikan pencerahan pada cara pandang masyrakat dalam kehidupan sosial yang kapitalistik. Komunisme juga telah diajarkan di berbagai kalangan, bukan sebagai sebuah ideologi akan tetapi wacana kajian yang ilmiah. Inilah yang seharusnya dilakukan jika kita ingin mencerdaskan bangsa sesuai dengan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945

Referensi:

Tay, Alice Erh-Soon, “Marxism, Socialism and Human Rights” dalam E. Kamenka dan Alice Erh-Soon Tay, Human Rights Idea and Ideologies, Bab 8 Hal. 104-112

Giddens, Anthony, Kapitalisme dan Teori Sosial Modern. (UI-Press, 1986)

Wardaya, Baskara T, Marx Muda: Marxisme Berwajah Manusia (Buku Baik, 2003)

Magnis-Suseno, Franz, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisonisme (Gramedia, 1999)

Atmowiloto, Arsewendo, Pengkhianatan G30S/PKI (Sinar Harapan, 1994)

Russel, Bertrand, Sejarah Filsafat Barat; Kaitannya Dengan Kondisi Sosio-Politik Zaman Kuno hingga Sekarang (London, 1945)

Geoffrey Robertson QC, “Abad XIV: Bentham, Marx dan Dorongan Kemanusiaan,” dalam Kejahatan Terhadap Kemanusiaan, Perjuangan untuk Mewujudkan Keadilan Global, Bab I Hal 14 -19

Hansen, Carol Rae, excerpts “Socialism, Marxism, and Human Rights” dalam A History of Human Rights Theory, (Onyx Press, ….)

Brittanica Enskilopedia

Kebangkitan Nasional

Sejarah Sekilas

Kebangkitan nasional adalah masa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan 350 tahun. Masa ini diawali dengan dua peristiwa penting Boedi Oetomo (1908) dan Sumpah Pemuda (1928). Masa ini merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli.
Tokoh-tokoh kebangkitan nasional, antara lain: Sutomo, Gunawan, dan Tjipto Mangunkusumo, dr. Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Suryoningrat (Ki Hajar Dewantara), dr. Douwes Dekker, dll
Selanjutnya pada 1912 berdirilah partai politik pertama Indische Partij. Pada tahun ini juga Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (Solo), KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah (Yogyakarta) dan Dwijo Sewoyo dan kawan-kawan mendirikan Asuransi Jiwa Bersama Bumi Putera di Magelang.
Suwardi Suryoningrat yang tergabung dalam Komite Boemi Poetera, menulis Als ik eens Nederlander was (Seandainya aku orang Belanda), 20 Juli 1913 yang memprotes keras rencana pemerintah jajahan Belanda merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda di Hindia Belanda. Karena tulisan inilah dr. Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryoningrat dihukum dan diasingkan ke Banda dan Bangka, tetapi “karena boleh memilih”, keduanya dibuang ke Negeri Belanda. Di sana Suwardi justru belajar ilmu pendidikan dan dr. Tjipto karena sakit dipulangkan ke Indonesia.


Kebangkitan Nasional VS Realita

Hampir satu abad yang lalu hingga dewasa ini (tepatnya pada bulan Mei) banyak peristiwa penting yang menjadi catatan sejarah. Mulai hari buruh internasional (1 Mei), hari Pendidikan Nasional (2 Mei), hari Lembaga Sosial Desa (5 Mei), hari Palang Merah Internasional (8 Mei), hari POM TNI (11 Mei), disusul dengan tragedi berdarah Trisakti (12 Mei), kemudian hari Buku Nasional (17 Mei), dan yang terakhir adalah hari Kebangkitan Nasional (20 Mei). Namun dari serangkaian rajutan benang sejarah dia atas, hanya beberapa saja yang ajeg dan kontinu diperingati oleh sebagian besar masyarakat, salah satunya adalah momentum Kebangkitan Nasional.
Dalam beberapa pengertian yang di ada di kamus standar, Kebangkitan Nasional ditafsiri sebagai masa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang sebenarnya tidak pernah muncul selama penjajahan yang hampir menghabiskan waktu sekitar tiga setengah abad.
Pada peringatan hari Kebangkitan Nasional dewasa ini, tidak ada mudhoratnya jika kita sama-sama mencoba untuk mengolahragakan otak guna mencari file yang sudah di save dalam long memory pribadi masing-masing. Tentunya hal itu masih bertalian dengan perjalanan sejarah yang diawali dengan lahirnya gerakan nasionalis pertama yaitu Boedi Oetomo (1908) dan Sumpah Pemuda (1928).
Dimulai dengan lahirnya gerakan nasionalis pertama Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908, hampir satu abad yang lalu. Pergerakan nasional ini diprakarsai oleh Dokter Soetomo di Jakarta. Dengan dorongan dilahirkannya Boedi Oetomo ini, kemudian lahirlah Sarekat Islam, di tahun 1912, di bawah pimpinan Haji O.S. Tjokroaminoto bersama Haji Agus Salim dan Abdul Muis. Dalam tahun 1912 itu lahir pula satu gerakan politik yang amat penting, yaitu Indische Partij yang dimpimpin oleh Douwes Dekker (Dr. Setiabudhi), R.M. Suwardi Suryaningrat dan Dr. Tjipto Mangunkusumo. Tahun 1913, partai ini dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda dan pemimpin-pemimpinnya ditangkapi dan kemudian dibuang dalam pengasingan.
Namun, terlepas dari hal tersebut diatas, realita saat ini tidaklah demikian. Penulis merasakan aroma ketidak pedulian masyarakat terhadap ruang sejarah publik yang seharusnya dapat dikeruk manfaatnya. Betapa tidak, coba saja tenggok tanggal 2 Mei kemarin yang bertepatan dengan hari Pendidikan Naional. Momentum ini hanya diperingati secara seremonial saja tanpa ada implementasi kritis yang terus berkesinambungan. Akibatnya nasib pendidikan di Indonesia ini amatlah mengenaskan.
Tidak usah terlalu jauh mengkomparasikan kondisi pendidikan di Indonesia dengan negara lain. Penulis yakin, lokomotif akal, budi, dan nurani kita masih dapat melaju dengan baik. Lihat saja penderitaan yang dirasakan Pak Mahmud yang bekerja sebagai seorang guru. Sebagaimana yang disiarkan stasiun TV beberapa hari yang lalu, ia cuma menerima gaji sebesasar Rp 400.000 dari hasil kerjanya. Padahal, di kota seperti Jakarta bea hidup amatlah tinggi. Dengan modal materi yang jauh dari cukup ia mencoba untuk menghidupi istri dan anaknya. Mau tidak mau, akhirnya pahlawan tanpa tanda jasa ini nyambi jadi pemulung untuk mempertahankan supaya dapur rumah tetap mengepul.
Belum lagi sekolah-sekolah yang tidak layak pakai. Seperti sekolah-sekolah yang kurang mempunyai sarana penunjang. Padahal jika menengok amanat subsidi dari pemerintah yang sudah dicanangkan untuk anggaran pendidikan adalah sebesar 20% dari APBN, namun yang terealisasi hanyalah sebesar 9%. Bandingkan dengan prosentase hutang ke luar negeri sebanyak 30% dari APBN.
Sejatinya bukan hanya pendidikan yang bernasib sial dan mengenaskan. Tubuh ekonomi juga merasakan hal yang sama. Misalnya, harga BBM yang terus menaikkan harga, tersendatnya pasokan bensin ke sejumlah SPBU di Pandeglang makin meresahkan. Selain sulit didapat, harga di tingkat pengecer melambung hingga Rp 10.000/liter (Jawa Pos, Sabtu, 19 Mei 2007). Beras, minyak tanah, dan barang pokok lainnya juga demikian. Beberapa hari yang lalu, minyak goreng juga ikut-ikutan memasang harga yang tidak murah. Dari harga yang mulanya hanya Rp 5.000-an/kg sekarang menjadi Rp 8.000/kg, bahkan beberapa waktu yang lalu sempat melonjak hingga Rp 8.300/kg (Seputar Indonesia, 17 mei 2007).
Bait-bait revolusi yang kerap di kumandangkan mahasiswa;“Tempat Padi Terhampar, Samuderanya Kaya Raya, Tanah Kami Subur Tuhan” belum terbukti keampuhannya. La wong busung lapar masih populer di negeri ini, pun juga dengan impor beras masih terus berjalan lancar tanpa hambatan.
Belum lagi masalah kesehatan yang amat memperihatinkan. Dewasa ini masalah demam berdarah belum juga usai. Korban jatuh sakit dan meninggal akibat penyakit demam berdarah dengue diakui meningkat hingga sekitar dua kali lipat jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu di wilayah Kabupaten Malang (Kompas, Sabtu, 19 Mei 2007).
Dengan berbekal seabrek pengalaman sejarah yang tidak hanya menginjak harga diri siapapun, sudah saatnya kita sebagai salah satu dari komponen masyarakat Indonesia mulai berbenah diri dan bersatu guna membangun kembali negara yang sudah tidak ada lagi pondasinya. Oleh karena itu, mari kita intropeksi diri secara totalitas sehingga kita mempunyai suatu kesadaran ruang, posisi, dan moral yang balance.
Namun hal lain yang perlu mendapatkan sentuhan lebih adalah masalah pendidikan. Bagaimanapun juga, indikasi yang paling dominan untuk menunjukkan suatu peradaban maju dari sebuah bangsa adalah ketika sektor pendidikannya berkualitas lebih. Oleh karena itu bersama momen Kebangkitan Nasional ini marilah kita bersama-sama menjadi salah satu bagian dari orang-orang yang memiliki kesadaran ruang, posisi, dan moral yang tinggi sehingga Indonesia benar-benar bangkit menjadi bangsa yang bersahaja, sentosa, adil dan makmur. Amiin!



** Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia


07 Mei 2008

Lagi-lagi Sejarah...


...."Sejarah yang benar adalah sejarah hari ini". Itulah kata-kata yang diucapkan oleh seorang filsuf sejarah, Crose. Sejarah memang tidak berlangsung di ruang kosong, sejarah tidak berlangsung pada besarnya peristiwa, tetapi siapa yang menjadi juru tulis dan juru tuturnya. Boleh jadi bagi kita sejarah tertentu bermakna sangat besar, tetapi tidak bagi orang lain. Tetapi bagi pemegang kuasa, sejarah yang besar adalah sejarah dimana dirinya terlibat aktif. Dari situlah kemudian muncul banyak pahlawan dan mana pembangkang.
Mungkin dibawah ini adalah sebuah ungkapan rasa kekesalan, kegelisahan serta kekecewaan yang saya alami dan kemudian coba saya tuangkan dalam bentuk bait-bait kata sebagai berikut :




"Padahal kami sudah bangga padamu
dalam buku sejarah yang tulis sendiri itu
engkau begitu gagah dan perkasa
kami pun terus mengagumi dan memujamu
di atas pintu rumah kami pasang fotomu
kata-katamu menjadi sabda dan kami rela jadi rakyatmu
tapi kini biarkan kami bakar buku sejarah yang kau tulis itu
untuk dusta yang kau buat beratus tahun lamanya

Dan atas nama kebenaran
biarkan kami catat sejarah dari apa yang kami alami
di kepedihan negeri ini maafkan
jika dalam sejarah yang kami catat kini engkau tak kami libatkan lagi"...


By : R

15 April 2008

Kemenangan "HADE" Fenomenal

Pilkada Jabar yang telah dilangsungkan minngu kemarin menghasilkan hal yang tak diduga sebelumnya. Kemenangan pasangan Achmad Heryawan - Dede Yusuf (Hade) berdasarkan hasil quick count merupakan hal yang sangat fenomenal dan akan menjadi bola salju untuk Pemilu Gubernur di daerah lainnya. Kombinasi birokrat dan militer yang biasanya menjadi “amunisi” untuk sebuah Pilkada menjadi tidak berlaku di Jabar.
“Masyarakat, terutama kaum perempuan dan pemilih pemula cenderung memilih tokoh-tokoh baru dan tidak ada hubungannya dengan kepemimpinan masa lalu.
Ia menuturkan, koalisi Gubernur Jawa Barat, Danny Setiawan dan mantan Pangdam, Iwan Sulanjana (Dai) dan Agum Gumelar - Wakil Gubernur Jabar, Nu’man A Hakim merupakan pasangan yang masih terkait dengan ketidakberhasilan pembangunan di Jabar. “Hal ini mengakibatkan masyarakat lebih memilih pasangan yang benar-benar baru sebagai harapan dan alternatif untuk perubahan,” ujarnya.
Terkait kemenangan Hade yang ada di depan mata ini, Fadjroel mengatakan, pasangan muda ini akan mempunyai beban yang sangat besar karena sebelumnya tidak terbiasa dalam birokrasi jika dibandingkan dua pasangan lainnya.
Hasil quick count sejumlah lembaga yang telah mencapai 60 persen menunjukkan kemenangan pasangan Hade. Sisa suara diperkirakan tidak akan mengubah komposisi.
Untuk sementara hasil quick count di Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis hingga pukul 16.30 WIB), Dai 26,85 persen, Aman 32,38 persen dan Hade 40,8 persen. Hasil survei Litbang Kompas, Dai 24,19 persen, Aman 35,34 persen dan Hade 40,47 dari 287 TPS. Lingkar Survei Indonesia (LSI), Dai 20,47 persen, Aman 26,46 persen dan Hade 39,87 persen. Pos Penghitungan Suara Hade mencatat, Dai 26,14, Aman 35,39 persen dan Hade 38,82 persen hingga pukul 16.30 WIB Minggu.

Pilkada Dan Kendala Perubahan

Esensi pergantian kepemimpinan pada dasarnya untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik atau proses pemilihan kepala daerah baru memiliki makna jika kepala daerah yang terpilih bisa melakukan perubahan-perubahan atau kemajuan-kemajuan yang bisa dirasakan kemanfaatannya oleh masyarakat luas. Oleh sebab itu, setiap calon kepala daerah selalu menjual isu perubahan sebagai salah satu isu kampanye yang cukup efektif menarik dukungan masyarakat luas.
Isu perubahan sebagai tema kampanye memiliki argumen yang mendasar karena pelaksanaan pilkada yang memerlukan dana yang besar akan menjadi mubazir jika pemimpin yang terpilih nantinya tidak mampu melakukan perubahan-perubahan yang nyata untuk kemaslahatan masyarakat.
Namun, ketika isu perubahan digulirkan oleh para calon kepala daerah sering hanya sekadar alat kampanye untuk menarik dukungan masa, bahkan cenderung mengarah pada kebohogan publik. Fenomena itu tercermin dari isu perubahan tidak didukung program kerja yang konkret dan oprasional, serta tidak dukung kontrak politik yang mengikat dengan para pemilihnya. Akibatnya, isu kampanye perubahan yang dikedepankan hanya sebatas melakukan propaganda politik dengan cara-cara mengangkat isu-isu politik yang tidak berdasar atau hanya memojokan calon incumbent.
Dalam konteks pendidikan politik yang sehat dan dinamik, seharusnya melalui pilkada rakyat diberikan proses pembelajaran politik yang bisa memberikan pencerahan politik. Rakyat harus diberikan informasi yang objektif dan rasional untuk menilai mana calon yang memiliki visi perubahan dan calon mana yang antiperubahan, sehingga proses persaingan politik akan berjalan dalam suasana politik yang sehat dan terbangun kultur politik yang berkeadaban.

Agenda Perubahan
Secara subtantif, makna perubahan dalam pilkada, yaitu adanya sejumlah gagasan melakukan perbaikan-perbaikan yang mendasar dalam segala bidang terutama yang dirasakan masyarakat luas. Isu perubahan yang selama ini dirasakan masyarakat luas, yaitu perbaikan di bidang ekonomi, pemerataan pembangunan, perbaikan di bidang pelayan publik, dan perubahan yang mendasar, yaitu membangun kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Jika menilik ke belakang, sejumlah isu perubahan tersebut sesungguhnya bukan persoalan baru karena dalam perkembangan 10 tahun terakhir ini sejak pascapemerintahan Orde Baru, upaya melakukan perubahan kepada empat persoalan tersebut, yaitu perbaikan ekonomi, peningkatan kualitas pelayanan publik, pemerataan pembangunan dan membangun kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Sudah banyak perubahan dilakukan melalui berbagai kebijakan pemerintah, tapi hasilnya tidak banyak mengalami perubahan yang berarti. Bahkan, ada kecenderungan dengan adanya perubahan kepemimpinan melalui pilkada yang demokratis, ternyata tidak secara signifikan bisa melakukan perubahan.
Oleh sebab itu, pertanyaan yang hendak kita diskusikan, yaitu mengapa perubahan itu tidak terjadi? Dari mana kita memulai agenda perubahan tersebut? Beberapa alasan mengapa perubahan itu tidak terjadi?
Pertama, tidak terjadinya perubahan pascapergantian kepala daerah, bukan bararti calon kepala daerah tidak memiliki visi dan misi perubahan, melainkan visi dan misi tersebut gagal dilaksanakan. Problem mendasar kegagalan tersebut karena kultur birokrasi pemda cenderung bekerja dalam suasana tidak kompetitif, kurang memiliki kinerja yang optimal, pengalokasiaan anggaran yang tidak efisien, tidak bersahaja, dan cenderung korup.
Kedua, kekuasaan yang dijalankan kepala daerah cenderung tidak efektif karena gagal mengendalikan dan mengontrol perilaku birokrasi. Kekuasaan tidak dipakai untuk mengatur dan melaksanakan berbagai kebijakan, tetapi lebih cenderung dipakai sebagai alat memaksimalkan kepentingan kepala daerah, bukan pada pencapaian kepentingan masyarakat luas.
Ketiga, berjalannya pemerintahan tidak bisa dikontrol secara efektif. DPRD yang seharusnya mengontrol kekuasaan jalannya pemerintahan tidak bisa efektif karena perilaku anggota Dewan lebih cenderung kompromistik, tanggap terhadap kepentingan pemda, dan berbagi kepentingan. Fungsi Dewan, akhirnya hanya sebagai alat legitimasi kepentingan kepala daerah dan pejabat birokrasi pemda, bukan mengarahkan, mengontrol, dan memberi alternatif kebijakan.
Keempat, tidak muncul kepemimpinan yang kontekstual dalam pengertian kalau sebagian besar penduduk di suatu daerah kabupaten/kota masyarakatnya miskin ternyata pemimpinya tidak secara serius memperjuangkan agar rakyatnya bebas dari persoalan kemiskinan. Demikian halnya jika terjadi pemerintahan itu korup penuh dengan pungli, ternyata pemimpinnya sama sekali tidak memiliki komitmen mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas dari pungli.
Kelima, keberadaan pemerintah daerah di mana pun juga dimaksudkan menghasilkan output. Output penyelenggaraan pemerintahan oleh daerah berupa percepatan kesejahteraan masyarakat. Inovasi menjadi suatu keharusan yang mesti dilakukan agar keberadaan pemerintah menjadi bermakna di mata rakyatnya. Inovasi itu bisa dicapai antara lain melalui terobosan mengambil keputusan terutama yang terkait dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ada kecenderungan pemerintah daerah sekarang tidak inovatif karena terjebak gaya pemerintahan yang monoton, lamban, cenderung rutinitas bahkan sebagian besar kepala daerah penuh rasa khawatir untuk melakukan eksperimen penyelenggaraan pemerintahan di alam otonomi. Banyak pejabat daerah berhadapan dengan hukum karena tindakannya dituduh telah melakukan praktek penyelenggaraan pemerintahan yang dinilai melanggar undang-undang. Ini membuat pemerintah daerah takut berinovasi akibatnya tidak terjadi peningkatan kualitas pelayanan kepada rakyat, demikian juga percepatan kesejahteraan sulit tercapai.

Memulai Perubahan?
Dari beberapa pengalaman pilkada di beberapa kabupaten/kota atau provinsi yang sudah berlangsung selama ini ternyata sebagian besar menunjukkan kecenderungan tidak terjadinya perubahan yang signifikan menuju best practise. Kunci utama melakukan perubahan, yaitu dalam proses pilkada, partai politik dalam melakukan rekrutmen calon kepala daerah harus menjaring calon-calon yang memiliki kapasitas menata manajemen pemerintahan agar memiliki watak untuk melakukan perubahan-perubahan yang inovatif.
Problem mendasar yang dihadapi sekarang ini yaitu partai tidak secara komprehensif untuk menyusun kriteria calon kepala daerah. Umumnya partai politik hanya mengedepankan kriteria popularitas dan faktor dukungan finansial sebagai kriteria utama calon kepala daerah karena terbentur dengan realitas pemilih yang sebagian besar masih dalam kategori pemilih nonrasional dan realitas pilkada yang memerlukan biaya yang sangat besar.
Dalam perspektif demikian, maka agak sulit mencari sosok calon kepala daerah yang memiliki kapasitas melakukan perubahan manajemen pemerintahan. Oleh sebab itu, jangan terlalu berharap kalau pilkada akan menghasilkan kepala daerah yang bisa melakukan perubahan-perubahan sepanjang proses pilkada mulai dari penjaringan calon sampai dengan pemilihan hanya semata-mata berbasis pada visi kepentingan pragmatis partai dan mengikuti logika masyarakat awam yang melihat sosok pemimpin bukan pada persoalan yang substantif.

** Penulis adalah Mahasiswa Di Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia

14 Januari 2008

PROPOSAL SEMINAR NASIONAL IKAHIMSI XIII

I. DASAR PEMIKIRAN

Kedudukan sejarah di tengah-tengah ilmu-ilmu lain seringkali diperdebatkan dan dipertentangkan, apakah sejarah termasuk ilmu Humaniora atau termasuk ilmu-ilmu sosial. Sebenarnya sejarah mempunyai kedudukan unik di dalam rumpun ilmu-ilmu sosial. Meskipun sejarah termasuk salah satu dari ilmu-ilmu sosial lainnya itu masih dapat dibedakan. Di samping itu perkembangan metodologi sejarah dewasa ini erat sekali hubungannya dengan usaha-usaha saling mendekatnya antara ilmu sejarah dengan ilmu-ilmu sosial lainnya.
Berangkat dari pernyataan di atas maka perlu di adakan sebuah kajian mengenai posisi sejarah dan fungsinya, terutama kaitannya dengan ilmu sosial lainnya. Adapun kajian tersebut nantinya akan lebih di arahkan kepada pembahasan menganai kedudukan sejarah sebagai salah satu ilmu sosial, persamaan maupun perbedaan dalam pendekatannya, bagaimana keduanya saling mendekati dalam apa yang disebut interdisiplin, serta bagaimana sejarah menggunakan konsep-konsep ilmu sosial, atau ilmu-ilmu sosial menggunakan konsep sejarah dalam metodenya.
Di sisi lain masih berkenaan dengan sejarah serta kaitannya dengan ilmu sosial, ada kebutuhan akan implementasi pembelajaran di sekolah, maka perlu juga sebuah kajian mengenai pembelajaran sejarah yang berhubungan dengan mata pelajaran sosial di sekolah.
Penyelenggaraan Seminar Nasional Sejarah dengan tema “Rapprochement Sejarah dengan Ilmu-ilmu Sosial” mudah-mudahan bisa membantu orang yang berkecimpung di bidang sejarah untuk lebih memahami permasalahan di atas. Disamping itu penyelenggaraan seminar ini pun merupakan wahana silaturahmi himpunan mahsiswa sejarah seluruh Indonesia.


II. LANDASAN KEGIATAN


     Penyelenggaraan kegiatan ini berlandaskan pada :
  1. Pancasila;
  2. Undang-undang Dasar 1945;
  3. Undang-undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional;
  4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 60 tahun 1999, tentang Pendidikan Tinggi;
  5. Surat Keputusan Mendiknas No. 115/U/1999, tentang pedoman umum organisasi kemahasiswaan di Perguruan Tinggi;
  6. Tri Dharma Perguruan Tinggi;
  7. Pedoman kemahasiswaan Universitas Pendidikan Indonesia;
  8. Program Kerja Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia periode 2007-2008.

III. MAKSUD DAN TUJUAN

  1. Memberikan pemahaman mengenai posisi sejarah dan fungsinya, terutama kaitannya dengan ilmu sosial lainnya;
  2. Memberikan gambaran implementasi pembelajaran sejarah dan mata pelajaran pengetahuan sosial di sekolah;
  3. sebagai wahana untuk memperluas wawasan keilmiahan dalam sejarah;
  4. Membangun wacana ilmiah di kalangan civitas akademika Pendidikan Sejarah di Indonesia;
  5. Memupuk dan mempererat rasa kekeluargaan antar sesama Mahasiswa Sejarah Se- Indonesia.

IV. NAMA KEGIATAN


Nama kegiatan ini adalah "Seminar IKAHIMSI".

V. TEMA KEGIATAN


Sesuai dengan hasil Rapat Kerja, kegiatan ini kami beri tema “Rapprochement Sejarah dengan Ilmu-ilmu Sosial”.

VI. BENTUK KEGIATAN
  1. Wilujeng Sumping dan pembukaan
    Wilujeng sumping merupakan acara penyambutan kedatangan atau kegiatan keakraban antar peserta, antara panitia dan peserta, dan penjelasan umum mengenai kegiatan.
  2. Seminar Nasional Ikahimsi
    Seminar nasional XIII Ikahimsi akan mengangkat tema “Rapprochement Sejarah dengan Ilmu-ilmu Sosial” yang dilaksanakan sebanyak dua sesi pada 7 April 2008 di Gedung Balai Pertemuan Universitas Pendidikan Indonesia. Adapun rincian tiap sesi adalah sebagai berikut
    a. Pada sesi pertama akan dibahas mengenai bagaimana “Kedudukan sejarah dalam ilmu      sosial dan Humaniora”.
    b. Pada sesi kedua akan dibahas mengenai “Pengembangan pembelajaran sejarah dan      mata pelajaran pengetahuan sosial lainnya”.
    Seminar nasional Ikahimsi ini akan menghadirkan sejarawan dan pakar pendidikan antara lain Prof. Dr. Helius Syamsudin (UPI), Dr. Anhar Gonggong (Sejarawan), Prof. Dr. Said Hamid Hasan (UPI), Kepala Departemen Dinas Pendidikan Nasional. Seminar ini terbuka untuk umum, baik kalangan akademisi, mahasiswa umum, serta praktisi pendidikan.
  3. Diskusi Mahasiswa
    Presentasi makalah dari masing-masing peserta terpilih (3 peserta) untuk kemudian dibahas bersama berkaitan dengan tema Ikahimsi. Diskusi ini dilaksanakan pada 07 April 2008 bertempat di PKM UPI.
  4. Field Trip
    Kunjungan ke tempat-tempat bersejarah di seputar Bandung. Acara ini dilaksanakan pada tanggal 08 April 2008.
  5. Pentas Seni dan Budaya
    Menampilakan kesenian khas daerah oleh perwakilan delegasi peserta tiap-tiap daerah serta menampilkan pula kesenian khas Jawa Barat.
  6. Lain-Lain
    Di sela-sela acara, kepanitiaan juga menyelenggarakan kegiatan berupa bazar buku, Accesorries, dan malam keakraban.

VII. PESERTA KEGIATAN

Peserta Seminar Nasional XIII Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah Se-Indonesia (Ikahimsi) terdiri dari perwakilan mahasiswa sejarah seluruh Indonesia, mahasiswa umum, dan undangan. Peserta mendaftarkan diri kepada panitia paling lambat pada tanggal 21 Maret 2008, dan bisa langsung mendatangi kesekretariatan panitia Ikahimsi di Gd. Olah Raga UPI Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung 40154, Contact person: 081320606324 (Irwan), 081804951507 (Rohmat). Atau via e-mail pada: ikahimsi08upi@gmail.com Informasi dapat pula ilihat secara on line pada http://www.ikahimsi08upi.page.tl/.
Uang pendaftaran sebesar Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) dan bisa dibayarkan pada saat pendaftaran di sekretariat atau via transfer pada rekening BNI Cabang Garut No. 0021900778 atas nama Novi Triyanti Nur Utami Setelah peserta melakukan transfer diharapkan dapat menghubungi panitia dan dimohon bukti transfer dibawa pada saat registrasi peserta.

VIII. WAKTU DAN TEMPAT

Hari/Tanggal : Minggu-Rabu, 06-09 April 2008
Waktu : 07:00 WIB s/d selesai
Tempat : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung

IX. SUSUNAN ACARA

Terlampir

X. ANGGARAN BIAYA

Terlampir

XI. SUSUNAN KEPANITIAAN

Terlampir

XII. LAIN-LAIN

Terlampir

XII. PENUTUP

Demikian rencana kegiatan ini kami buat dengan senantiasa mengharap ridho dari Allah SWT. Proposal ini disusun sebagai acuan dan gambaran umum tentang kegiatan Seminar Nasional XIII Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah Se-Indonesia (Ikahimsi) yang akan dilaksanakan.
Hal yang belum tercantum dalam proposal ini akan kami tentukan kemudian dengan kesepakatan seluruh pihak yang terkait.
Proposal ini dibuat dengan harapan semoga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan bantuan baik berupa sarana, prasarana, maupun peran serta dalam kegiatan ini.
Terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, baik berupa saran, prasarana, maupun peran serta. Semoga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik.




Bumi Siliwangi, 10 Desemberl 2007





Ketua Pelaksana,                                           Sekretaris,



 
 Irwan Saepuloh                                         Rohmatul Fajri
NIM. 043840                                             NIM. 043398



 



 
 




Popular Posts

Most Reading